Sabtu, 25 Desember 2010

DAMAI NATAL VS PANCASILA

Oleh: Muni

"Kita

Sebagai bangsa yang besar

harus bangga karena bangsa yang besar kalau bersatu maka akan menjadi bangsa yang kuat,

Kita

Sebagai bangsa yang sudah merdeka maka damai natal menjadi berkat untuk berdamai

Merdeka Secara seutuhnya”

Suasana natal selalu di iringi dengan kesenagan, kesenagan membuat suasana natal semakin meria. Dalam merayakan sauasana natal di tahun 2010, berada dalam kategori terbaik. Walaupun dalam memaknai natal sebagai hari kelahiran tuhan kita Yesus Kristus di Kota Daut. Bagimana Yesus lahir untuk menyelamatkan umat manusia yang kedua kalinya untuk menyelamatkan umat manusia. Kelahiran Tuhan Yesus Kristus adalah hari besejarah, yang selalu di rayakan oleh umat beragama atau umat kristiani dengan menjalan kan ibadah natal menjadikan momentum bersejarah yang mengingat kembali persoalan masalah lalu, dan makna hari kelahiran dengan siatuasi dan kondisi yang ada di lingkungan kita masing-masing, apapun itu yang penting ada makna natal yang kita amati. Namun mengapa kemudian natal sudah di tetapkan secara waktu untuk tiap Tangal 25 Desember tetapi untuk memaknai natal sebagai hari kelahiran Tuhan Yesus dilahirkan pada tahun berapa, akhirnay menjadi pertanyaan mendasar.

Karena kesan damai natal bukan hanya pesan untuk umat Kristiani saja, tetapi juga untuk semua orang karena natal adalah saat dimana kita saling mengampuni, menghomati, menyapa dan memaknai. Bukan karena kita memaknai natal sebagai hari besar bagi umat kristiani, tepi membangun toleransi antar umat beriman, saling mendorong, ada nilai gotong royong sehingga persatuan natal akan menjadi berkat dalam  natal untuk mendamaikan umat manusia. Mengingat kembali nilai- nilai pancasilah, kalau berbicara konteks indonesia makan “Memaknai tujuan bhineka tunggal ika”, berbeda-beda tetap satu dari sabang sampai dengan merauke, damai yang dimaksud adalah menghilangkan ketidak percayaan antar umat beragama, tetapi bagimana saling merangkul antara satu sama lain dengan tujuan agar menciptakan suasana yang bermakana, sama-sama merasakan makna natal yang sebenarnya. Dalam penekanan ini semestinya adalah membangun kemajuan bangsa dan negara dalam memperkuat negara juga bisa dimaknai oleh suasana natal yang damai.

Kalau, kita meminjam istilah Gotong royong seperti 5 – 2 = 3, 3-2=1 artinya lima dikurangi duan akan menjadi tiga, tiga kurang dua akan menjadi satu, satu yang di maksud adalah gotong royong.  Secara kongkritnya untuk mendamaikan atau mempersatukan dengan nilai persatuan dan kasatuan, Jika tidak ada damai di hati kita dengan tidak menanamkan nilai-nilai pancasila, bagaimana mungkin kita dapat memancarkan damai itu kepada semua orang. Untuk itu, sebagai asumsi mulailah damai itu dari dalam diri kita lebih dulu, maka damai itu akan menyebar ke semua orang. Begitu pun juga berbicara bangsa-bangsa yang ada di indonesia yang sudah di persatukan dari bangsa-bangsa menjadi bangsa indonesia. Meliat secara mendalam untuk mendamaikan melalui momentum natal sebagai manusai yang beriman melakukan berkomunikasi, sehingga mencari suasan yang kondusif dalam merayakan hari besar apapuan.

Dalam merenungkan acara natal sebagi bagian dari melihat dan mengevaluasi kembali semua perbuatan secar individu dan secara kelompok begitu pun juga berbicara dalam konteks kenegaraan untuk bagimana mendamaikan dan mengakui kesalahan yang di buat kepada warga negaranya ataupun waraga negara lain yang kita perbuat selama setahun untuk lebeih menekankan kita evaluasi kembali untuk lebih baik lagi diwaktu mendatang, sehingga disanalah ada kesadaran untuk kita maju, dan bersatu untuk kita membangun NKRI dengan nilai-nilai yang baik untuk tetap kita junjung tingi tanpa ada konflik, tanpa ada perbedaan suku, ras, agama dan lainnya.

Pancasilah sebagai dasar negara dan natal sebagai bagian dari pancasilah sehingga melalui damai natal untuk bagimana caranya menghindari kekacauan yang terjadi dimana-mana, saling menghacurkan martabat antara satu dengan yang lainnya itu di jadikan sebagai hal yang tidak sepantasnya engingat kembali kenyataan ini membuat bangsa menjadi rapu karena tidak memaknai rasa percaya diri sebagai bangsa besar yang menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai dari masing-masing ajaran sesuai dengan kepercayaaannya masing-masing. 

Tujuannya agar memahami sebua momen sebagai makna perdamainan sesuai dengan nilai pancasila dan agama makan, persatuan dan kesatuan bangsa akan lebih semangat dalam membangun NKRI yang tidak akan rapu dan tidak akan pincang selama memperkuat semua hal yang kita anggap itu baik dan benar, keuntungan untuk semua makan kemajuan akan nampak dalam benak masing masing orang sehingga akan sesuai dengan hati nurani dan menjunjung nilai demokratis. 

“Hiduplah Dalam Perdamaian Dengan Semua Orang adalah bagian dari Membangun kebersamaan yang lebih tentram”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar