Oleh Muni
Politik Untuk mendamaikan suasana natal,
Natal tidak perluh di politisir!!!
Peristiwa demi peristiwa kita lalui bersama di momentum besejarah di muka bumi, mengapa hal tersebut harus terjadi?. Mengamati pertanyaan tersebut perluh diketahui bersama karena dalam suasana ketenangan umat beragama atau umat beriman dalam merayakan hari raya natal, namun selalu ada kegelisaan tesendiri dalam merayakan hari besar seperti merayakan hari natal bagi umat kristiani, begitu pun juga yang lainya sesuai dengan ajaranya masing-masing, juga pasti menganut sesuai dengan kepercayaannya masing-masing pada waktunya sebagai hari besar bagi agamanya. Sehingga hal tersebut, membuat kegelisaan antara persaingan, pertaurangan, ancaman, memfitna antar umat beragama, sehingga memeca belah persatuan umat beriman.
Perakmatisme dalam memaknai hari natal dan hari besar lainya karena hanya menyamakan dengan suasana lingkungannya, dan terpengaruh dengan dampak global yang sedang tergiur dalam arus globalosasi yang tidak membuat manusia baik itu secara karakter, dan pembawaannya. Dari hal tersebut pragmatisme itu menjadi pertarugan perbedaan pendapat antara seajaran dengan berbedah dengan liturgy atau atauran yang ada di tingkatan masyarakat atau pun dikalangan intelektual. Dalam konteks kebangsaan berarti tidak ada yang terpengaru dengan budaya luar yang akan memecah belah sesama umat beriman, tetapi tidak pernah memahami kalau itu membuat kita dibodohi secara halus.
Hal mendasar yang perluh di ulas lebih lanjut adah membajak hari natal untuk tujuan politik, karena disana pastia ada para politikus, agamawan, budayawan juga merayakan momentum tersebut, maka yang akan terjadi mengundang para diplomat, pimpinan gereja dan anggota komunitas lainnya berkumpul atau berkunjung dari rumah ke rumah juga pasti ada keterkaitan politik di kota mana pun, apalagi seperti di Indonesia, momentum natal juga bisa berjalan sesuai dengan pemikiran dan argumen yang dibangun dengan kepentingan-nya masing-masing.
Natal sebagai momentum politik, kalau mengamati hal sederhana bagi para politisi lokal akan memanfaat kan untuk mebagi-bagi sembako sebagai memperkuat basis dari akar rumput. Mencari simpati sebagai membangun kekuatan politik dan kepercayaan dari masyarakat untuk mendapatkan kekuasaan pada kesempatan mendatang. Sehingga paradikma yang tertanam di benak politikus akan menjadi karakter yang selalu mengelu dan mengelu ketika tujuanya tidak tercapai. Bukan hanya mebagi sembako tetapi bagian dari hal yang di politisir seperti mengapa pada saat hari natal politisi aharus mengawali kegiatan tersebut dari awal sampai selesai di suatu gereja. Karena sangat menakutkan dengan ancaman terorisme, pengeboman terjadi dimana- mana dengan beberapa pengalaman yang ada di dunia bukan hanya di Indonesia tetapi hampir seluruh dunia terjadi hal tesebut. Dengan tujuan adalah hanya mementingkan kekuasaan dan mereka mepunyai visi yang besar untuk melawan ajaran lain tidak mau di lewati dalam hal apa pun untuk menguasai dunia.
Bagimana merayakan momentum natal yangsesungunya selalu di politisir sebagai bagian dari kebahagian “momentum kelahiran sang juru selamat”, karena di sisi lain adalah sudah mengetahui terlebih dahulu natal tidak perluh di politisir karena hari kebesaran bagi umat beragama (kristiani). Sehingga harus berupaya keras dalam membagun suasana natal sebagai penguatan iman dan kepercayaan sebagai umat beragama dan merayakan secara serius sebagai hari natal sebagai kebahagiaan damai. Secara serius untuk merayakan hari besar sebagai hari natal bagimana bisa menyalakan lampu natal, membuat pohon natal, menyanikan lagu natal dimana-mana, podok natal dan lain-lain, hal seperti ini lebih mendasar untuk merayakan hari natal lebih serius dan punya kenagan yang bermanfaat. Ketika tiba pada Tanggal 25 Desember berarti kita akan berjabatangan dan berpelukan sebagai salam natal dan indanya suasana natal yang kita ikuti bersama.
Sebagai konsekuensi bagi umat beragama maka yang perluh di antisipasi dalam hari-hari kebesaran bagi umat beragama menjaukan ancaman yang tidak bermanfaat, bagimana caranya untuk saling melindungi, saling mensuport dalam hal apauan. Menjaga persatuan dan kasatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme. Sehinggi harapan sebagai bangsa yang besar akan terwujut.
Selamat Natal!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar